Rabu, 03 September 2014

R25 Diantre, Yamaha Tegaskan Produksi Mulai Semester 2

Jakarta, KompasOtomotif – PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) kembali bersiap-siap dengan antrean peminat sepeda motor sport. Calon konsumen yang berniat memboyong Yamaha R25 ternyata sudah mulai ”merengek” minta duluan. Soal ini, Yamaha menegaskan untuk bersabar, karena setelahlaunching pun, produksi baru mulai pada semester ke-2 tahun ini.

GM Marketing and Community YIMM, Eko Prabowo, mengakui banyaknya surel dan telepon yang masuk ke dealer dan YIMM, setelah muncul kabar R25 segera dirilis bulan ini. ”Dari e-mail dan telepon masuk, banyak yang meminta duluan. Tapi kami tegaskan mau tidak mau harus menunggu dulu,” ujarnya, Senin (12/5/2014)

Eko mengatakan, meski sudah dirilis 20 Mei nanti kepada media, dan setelah itu muncul hitungan mundur untuk para pemesan online, produksi massal tetap akan dilakukan semester ke-2 di pabrik YIMM Karawang, Jawa Barat. Artinya, pengiriman unit ke konsumen paling cepat akhir Juni mendatang.
21.700 UnitSoal produksi, YIMM belum membuka informasi. Namun, dari TPT Online Kementerian Perindustrian, terkuak bahwa Yamaha akan memproduksi R25 21.700 unit dalam tahap setahun ke depan. Di situs tersebut, YIMM memberi kode R25 dengan RG10, dengan kubikasi 249cc.

Mengingatkan kembali, seperti dalam spesifikasi awal yang muncul pada Tokyo Motor Show tahun lalu, R25 akan memakai mesin berkapasitas 249cc, 2-silinder, 4-katup dengan sasis ringan, lalu dipasangkan dengan transmisi 6-percepatan. Dimensi panjang 2.000 mm, lebar 720 mm dan tinggi 1.140 mm.

Di kelasnya, R25 akan head to head dengan Kawasaki Ninja 250FI dan Suzuki Inazuma 250 (sama-sama dua silinder). Bisa juga dicemplungkan di sepeda motor berkubikasi sama yang menggunakan satu silinder seperti Honda CBR250R dan Kawasaki Ninja RR Mono.
Read More

Honda CBR250R Bisa Lebih Murah Rp 10 Juta jika...

Jakarta, KompasOtomotif -- Meski sebenarnya harga Honda CBR250R terbilang kompetitif atau bahkan lebih murah dibandingkan dengan kompetitor, tetapi penjualannya tetap tak "sekinclong" Kawasaki Ninja 250FI, pesaing terberat di kelasnya. Lalu muncul wacana, jika diproduksi lokal seperti halnya Yamaha memproduksi R25 di Indonesia, harga pasti bisa ditekan. Mungkinkah?

”Mungkin! Tapi ada syaratnya,” celetuk Executive Vice President Director PT Astra Honda Motor (AHM), Johannes Loman, Kamis (14/5/2014). Menurut dia, syarat utama adalah volume. Secara strategis, Honda harus mempertimbangkan pasar, termasuk potensi ekspor untuk menambah kuota produksi.

Apakah harus ekspor? Loman mengatakan tidak juga. Indonesia adalah pasar sepeda motor yang besar dan berpotensi untuk menciptakan penjualan yang besar pula. ”Namun, akan lebih efisien lagi kalau kompetitif juga di luar negeri. Masalahnya, tidak semua model bisa diterima di negara lain,” jelasnya.

CBR150R lebih mungkinDitegaskan, untuk memproduksi secara lokal, tidak hanya harus punya kuantitas minimum, tetapi juga harus melihat pemasok dan komponen yang akan dipakai. Jika komponen dipakai sama atau lebih global, memproduksinya juga akan lebih gampang dan efisien.

Soal produksi model sport medium-up ini, Loman mengatakan, CBR150R justru lebih mungkin jika diproduksi lokal karena secara volume lebih besar ketimbang CBR250R.

Nah, pertanyaannya sekarang, andai CBR250R diproduksi di pabrik AHM, berapa perbedaan harga yang masuk akal? Ada selentingan bakal lebih murah Rp 10 juta karena cost akan berkurang dengan tidak adanya beban bea impor. ”Saya tidak bisa bilang Rp 10 juta, tapi yang pasti akan signifikan,” tukas Loman.

Saat ini, Honda CBR250R didatangkan utuh dari Thailand. Banderol masih tentatif, tetapi AHM sudah memberi kisaran, yakni di rentang Rp 48,95 juta-Rp 49,95 juta untuk varian standar dan tipe ABS antara Rp 56,7 juta-Rp 57,95 juta.
Read More

Selasa, 02 September 2014

Inikah "Mobil Murah" Kedua dari Suzuki Indonesia?



Bangkok, KompasOtomotif — Suzuki sudah merambah segmen "Eco Car" melalui Swift 1.2 liter yang diproduksi sesuai ketentuan program milik Pemerintah Thailand sejak 2012. Kini, Suzuki menyiapkan model kedua yang juga masuk dalam skema sama, tetapi dengan model dan pilihan mesin berbeda, Celerio.

Mobil kota ini dimensinya lebih kecil dari Swift. Celerio dibekali mesin bensin K10B, tiga silinder, 1.0 liter, sama seperti Karimun Wagon R. Bedanya, Celerio sudah ada varian transmisi CVT, sementara Karimun manual saja. Tenaga yang dihasilkan mencapai 68 PS dan torsi 90 Nm. Mobil ini diproduksi di pabrik Hamaraj di Provinsi Rayong, sama seperti Swift.

Celerio merupakan produk dengan desain global karena juga dipasarkan di India, Asia, dan Eropa. Desainnya cukup dinamis dengan bentuk agak oval, berbeda dengan Wagon R yang cenderung mengotak. Dari segi bentuk, Celerio akan "head to head" dengan mobil murah lain yang sudah ada di Indonesia, seperti Toyota Agya, Daihatsu Ayla, atau Honda Brio Satya.

Interiornya cukup sederhana dengan tuas perseneling menyatu dengan dasbor. Untuk varian tertinggi, sistem audio sudah 2-DIN "built in" dalam dasbor. Lingkar kemudi bisa dinaik-turunkan sesuai ketinggian pengemudi.
India
Selain di Thailand, Suzuki Celerio juga diproduksi di India. Sumber internal PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) mengatakan, saat ini perusahaan lagi menimbang-nimbang dari negara mana Celerio mau diimpor utuh (CBU).

"Kalau pasti iya, kami pasti akan pasarkan karena ini sifatnya politis. Tapi, dari mana kami impor ini yang masih dilihat faktor ekonomisnya," ujar sumber itu.

Bedanya, di India, Celerio dibekali sistem transmisi automated manual transmission (AMT). Transmisi ini diciptakan karena pamor transmisi otomatis masih minim di India. Di India, Celerio diplot menggantikan Alto dan Splash yang tidak lagi dilanjutkan produksinya mulai tahun depan (2015).

Lantas kapan Celerio mau diluncurkan di Indonesia? Sumber itu belum mau mengatakan waktu pasti. "Sebentar lagi, dalam hitungan bulan akan diluncurkan," tutup sumber itu.
Read More

Pasar Mobil Thailand Masih Goyah

Bangkok, KompasOtomotif - Suzuki Motor Corporation melalui cabang usahanya di Thailand, memprediksi penjualan mobil domestik turun tahun ini menjadi 950.000 unit, dari hasil tahun lalu 1,33 juta unit. Dalam periode empat bulan pertama, produksi turun 27,8 persen menjadi 644.222 unit, sedangkan penjualan tercatat 297.413 unit, turun 43,1 persen.

"Berdasarkan hasil empat bulan pertama yang turun, pemangkasan penjualan sulit dihindari tahun ini," jelas Takayuki Sugiyama, Presiden Direktur Suzuki Thailand dilansir Bangkok Post, hari ini (30/5/2014).

Pada 2013 lalu, Suzuki berhasil menjual 45.200 unit mobil di Thailand. Sementara Asosiasi Industri Otomotif Thailand baru saja melaporkan kalau kondisi pasar masih buruk pada April. Produksi turun 25,6 persen menjadi tinggal 126,730 unit, sementara penjualan lebih parah lagi, anjlok 33,2 persen menjadi 73.242 unit.

Di sisi lain, ekspor mobil dari Thailand justru naik periode triwulan pertama 2014. Ekspor dari Thailand tercatat 69.804 unit, naik 2,3 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan total dalam empat bulan, kinerja ekspor juga naik 1,5 persen menjadi 361.313 unit.

Genjot ekspor
Untuk mengatasi kondisi ini, Suzuki Thailand berencana menggenjot kinerja ekspor supaya tetap bisa mempertahankan kapasitas pabriknya. Salah satunya dengan menghadirkan model baru Celerio, mendampingi Swift yang sudah lebih dulu diproduksi di pabrik Hamaraj, Provinsi Rayong, Thailand sejak 2012 lalu.

Tahun ini, Suzuki menargetkan ekspor bisa naik menjadi 20.000 unit dari perolehan tahun lalu cuma 16.000 unit. Secara total, Suzuki menargetkan bisa memproduksi 100.000 unit mobil tahun ini di Thailand, terdiri dari 60.000 unit Swift dan 40.000 unit Celerio.

Kedua model itu diproduksi sesuai skema "Eco Car" yang digulirkan pemerintah Thailand sejak 2007 silam. Suzuki sudah menggelontorkan investasi 8 miliar bath untuk mendirikan pabrik baru pada 2011, dengan kapasitas produksi tahap awal 50.000 unit.

Tahun lalu, Suzuki menambah investasi 1,3 miliar bath untuk menambah kapasitas produksi menjadi 100.000 unit. Sampai akhir tahun lalu, total produksi Swift sudah mencapai 70.000 unit, di mana 54.000 unit di antaranya terjual di domestik Thailand.

Swift buatan Thailand saat ini diekspor ke Indonesia, Malaysia, dan Australia. Sedangankan Celerio akan memasok kebutuhan Asia dan Eropa.
Read More

Pengasah Kompetensi Pebalap Muda Honda Mulai Digelar

Purwokerto, KompasOtomotif – Komitmen PT Astra Honda Motor (AHM) mengasah kompetensi pebalap muda Indonesia kembali ditunjukan, dengan dimulainya Honda Racing Championship (HRC) 2014, dimulai dengan seri 1 di Purwokerto, Jawa Tengah, Minggu (8/6/2014). Diharapkan ajang ini menjadi ”kawah candradimuka” menuju jenjang balap tingkat dunia.

HRC 2014 yang merupakan penyelenggaraan tahun ke-12, semakin dikembangkan dengan memperluas wilayah penyelengaraan dan menambah kategori kelas. HRC tingkat regional mulai merambah luar pulau Jawa, digelar di provinsi Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan.

Untuk penambahan kategori kelas, dibuka kelas matik di bawah 115cc. Selain itu, kelas khusus 150cc menggunakan CB150R StreetFire kini hadir di setiap kota penyelenggaraan, untuk memberi kesempatan para pebalap berlaga dengan sepeda motor sport.

Kelas CB150R StreetFire ini melengkapi kelas lain yang juga digelar tahun ini yaitu HRC1 (bebek tune-up 125cc 4-tak seeded), HRC2 (bebek tune-up 110cc 4-tak seeded), HRC3 (bebek tune-up 125cc 4-tak pemula), HRC4(bebek tune-up 110cc 4-tak pemula), HRC6 (bebek standar 110cc 4-tak pemula), HRC7 (matic standar sampai dengan 130cc terbuka), serta kelas terbaru HRC8 (matic standar sampai dengan 115cc terbuka).

General Manager Marketing Planning and Analysis Division AHM, A. Indraputra, mengatakan, ajang balap ini merupakan salah satu tahapan pembinaan balap berjenjang yang disusun perusahaan dalam rangka membawa pebalap berbakat Indonesia berprestasi hingga tingkat dunia.

"Kami memperluas cakupan kelas dan tempat penyelenggaraan untuk merangkul sebanyak mungkin potensi-potensi balap generasi muda Indonesia. Kami yakin HRC menjadi pijakan kuat para pebalap untuk melompat ke jenjang balap yang lebih tinggi," ujar Indra.
Konsep balap yang sudah terbukti mampu mencetak pebalap-pebalap berprestasi dari tahun ke tahun dipertahankan. Untuk mendekatkan para pebalap dengan masyarakat, dibuka kesempatanpaddock visit agar dapat melihat langsung dari dekat paddock tim dan pebalap idolanya. Diharapkan, ini akan memperkuat upaya edukasi yang juga diberikan melalui HRC Tour untuk siswa SLTA.

HRC tahun ini akan digelar sebanyak delapan event (5 series dan 3 non-series). Mulai dari Purwokerto (Jawa Tengah), lanjut ke Cimahi (Jawa Barat), Malang (Jawa Timur), Jakarta (DKI Jakarta), Banjarbaru (Kalimantan Selatan), Makassar (Sulawesi Selatan), Medan (Sumatera Utara), dan Semarang (Jawa Tengah).
Read More

Pembangunan Pabrik VW di Indonesia Diundur

Tangerang, KompasOtomotif - Garuda Mataram Motor (GMM) sebagai pemegang merek Volkswagen di Indonesia, mengungkapkan, rencana besar mendirikan pabrik VW sebagai basis produksi lokal dan ASEAN tetap terlaksana, tapi tidak pada 2014. 

Desember 2013 lalu, Presiden dan CEO GMM, Andrew Nasuri, mengonfirmasi pemancangan tiang pertama bakal diundur, sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Informasi itu diberikan empat bulan sejak kedatangan utusan VW AG, Christian Klinger, ke Indonesia untuk melaporkan rencana investasi pabrik, kepada sejumlah pejabat kementerian pada Agustus. Saat itu disebutkan pendirian pabrik akan terlaksana pada 2014. 

"Memang ada keterlambatan waktu seperti diperbincangkan tahun lalu. Awalnya tahun ini akanground breaking, tapi terkendala kondisi rupiah yang turun terhadap Euro," ujar Andrew. 

Dirinya menjelaskan, masalah ini sedang digodok ulang di prinsipal pusat. Hasil resmi akan dibeberkan dalam jangka waktu dekat. "Sekarang keputusan sudah mendekati titik akhir. Sebelum Lebaran (28 juli) kita sudah bisa dapat kepastian. Feeling saya jadi awal 2015," jelas Andrew.

20-30 ribu unit
Dijelaskan, keputusan awal pabrik besar VW sanggup memproduksi hingga 80 ribu per tahun, namun Andrew menerangkan, tahap awal berkisar 20-30 ribu unit. Di fase ini, VW masuk ke proses perakitan berkonsep Completly Knock Down (CKD). 

"Mereka (VW) mau mengikuti jejak kompetitor yang lain. Karena kalau mau masuk ke industri otomotif Indonesia urutannya itu Complete Built Up, Semi Knock Down, lalu CKD. Setelah itu lokalisasi, tapi tergantung skala ekonomisnya," jelasnya. 

Dengan menjalankan CKD, harga setiap unit VW di Indonesia bisa turun hingga 20 persen.
Read More

Senin, 01 September 2014

Ratusan "Mobil Murah" Kia Sudah Terjual

Serang, KompasOtomotif - Baru resmi diluncurkan beberapa pekan lalu, PT Kia Mobil Indonesia (KMI) sudah bisa tersenyum pada model terbarunya Morning. Mobil kota yang juga bersaing dengan mobil murah (LCGC), ini sudah terjual 200 unit lebih di seluruh Indonesia.

Ridjal Mulyadi, Manajer Pemasaran dan Komunikasi KMI, mengatakan, pemasaran Morning sudah dilakukan sejak hari pertama peluncuran. Konsentrasi pameran awal produk ini adalah daerah di luar Jabodetabek.
"Penjualan terbesar itu banyak di daerah, seperti Bandung dan Makassar, tapi berapa persentasenya masih belum ada informasi," jelas Ridjal, disela Media Test Drive Morning, di Serang, Banten, Selasa (3/6/2014).
Mobil kota tersebut dipasangi mesin 3-silinder, 1.0L, DOHC, berteknologi Dual CVVT. Mirip dengan beberapa produk mobil murah, seperti Toyota Agya, Daihatsu Ayla, dan Suzuki Karimun Wagon R. Harga yang ditawarkan Morning juga cukup mirip, Rp 128 juta, on the road Jakarta, Secara harga Morning berhadapan langsung dengan Agya.
Sampai akhir tahun, KMI menargetkan penjualan Morning  mencapai 2.000 unit. Dengan hasil ini (200 unit), artinya sudah tercapai 10 persen dari target.
Read More